Penyerangan Kota Konstantinopel Oleh Turki Usmani

Penyerangan Kota Konstantinopel Oleh Sultan Muhammad Al-Fatih
Jatuhnya kota konstantinopel diakibatkan serangan dahsyat pada tanggal 29 Mei 1453 M oleh Kesultanan Turki Utsmani yang pada kala itu dipimpin oleh Sultan Muhammad Al-Fatih ketika usianya baru 21 tahun. Dulunya Konstantinopel merupakan kota Byzantium yang pernah dihancurkan oleh bangsa Persia pada tahun 546 SM yang membuat Persia menguasai kota sampai tiga penerusnya mulai dari Koresh Agung hingga yang paling akhir Xerses, pada kepemimpinan Xerses Kerajaan Persia kalah perang dari Yunani sehingga kota konstantinopel kembali lagi ke tangan Yunani. Setelah serangan tersebut banyak kerajaan yang menyerang Byzantium, antara lain; Makedonia oleh raja Philip II pada 340 - 339 SM, Seleukia oleh Antiokhos II pada 246 SM, Bithynia oleh Prusias I pada 220 SM, dan masih banyak lagi.

Konstantinopel didirikan oleh Kaisar Romawi Konstantinus I pada 312 Masehi dan baru rampung (selesai) pada 330 Masehi. Kota Konstantinopel atau yang sebelumnya kota Byzantium Rome ini dikenal sebagai kota dengan benteng-benteng pertahanan kokoh yang telah direkonstruksi ulang oleh raja Romawi pada kalanya yaitu Septimus Severus, sebelumnya tembok Byzantium luasnya hanya memagari bukit pertama lalu direkonstruksi hingga memagari bukit kedua juga. Pada kepemimpinan Konstantinus Byzantium direkonstruksi menjadi lebih besar lagi untuk menandingi kota Roma, sehingga kota ini berganti nama menjadi Nova Roma tetapi masyarakat di sana lebih sering menyebutnya dengan Konstantinopolis atau Konstantinopel.

Ketika Murad II lewat usia, anaknya yaitu Mehmed II yang kita kenal dengan Sultan Muhammad Al-Fatih menjadi penerus kesutanan Turki Utsmani pada tangga 5 Muharam 855 H atau 7 Februari 1451 Masehi ketika usianya 19 tahun dan ia menaklukkan Konstantinopel pada usia 21 tahun. Tujuan pertama dan terbesarnya yaitu untuk mengambil Capital milik Constantin yang kala itu dipimpin oleh Constantin XI sebagai Raja Romawi Timur (Bizantium), Konstantinopel sendiri memiliki populasi antara 50-100 ribu orang.

Sebelumnya kakek dari Mehmed II yaitu Bezayid dan pasukannya sudah berhasil mengepung Konstantinopel dan membuat Kaisar Romawi Timur terpaksa menyerah. Akan tetapi, dalam waktu yang hampir bersamaan tentara Mongol yang dipimpin Tumirlenk menyerang Turki Utsmani yang memaksa pasukannya mundur dari Konstantinopel untuk bertahan, alhasil penaklukkan pun gagal.
Saat Mehmed II masih muda, ayahnya (Murad I) sudah mempersiapkan ia untuk menjadi seorang pemimpin yang hebat, sehingga walaupun usianya baru menginjak 21 tahun ia sudah bisa menaklukkan kota Konstantinopel. Sebelum Mehmed II menjadi penerus Kesultanan, ia sudah menjadi hafiz Al-Quran dan sudah dilatih memimpin Kesultanan dengan bimbingan para ulama, salah satunya yaitu Asy-Syeikh Ak Semsettin. Mehmed II menghabiskan hari-harinya di perpustakaan dengan membaca buku-buku sejarah kuno mengenai mitologi rakyat Konstantinopel. Setelah lama mencarinya akhirnya ia mendapatkan buku yang ia cari, dalam buku tersebut dijelaskan bahwa rakyat Konstantinopel percaya bahwa ketika Bulan Purnama mereka merasa dilindungi dan semakin kuat. Ketika membaca mitologi ini Mehmed II tidak begitu yakin, tetapi setelah merenungkannya ia memperoleh maksud dari mitologi tersebut yang pada akhirnya bisa ia terapkan ketika menyerang Konstantinopel.

Mehmed II mempersiapkan serangan yang matang agar membuat Jatuhnya Kota Konstantinopel, walaupun ia memiliki pasukan Jannisary yang terlatih hal tersebut tidak membuatnya puas, Mehmed II merasa masih membutuhkan sebuah senjata lagi yang bisa menghancurkan tembok pertahanan yang kokoh di Konstantinopel. Ia mengundang para ahli pengolahan logam dan senjata untuk duduk bersama dan berdiskusi membahas senjata baru yang akan diciptakan Turki Utsmani. Setelah berhari-hari mengadakan pertemuan akhirnya terciptalah ide membuat meriam jenis baru, meriam ini merupakan yang terbesar pada masanya, ada sumber yang mengatakan bahwa memerlukan ratusan tentara untuk mengangkatnya. Meriam tersebut diberi nama Orhan (Meriam Raja) yang merupakan meriam kebanggaan Turki Utsmani.

Sebelum jatuhnya kota Konstantinopel oleh Turki Utsmani, kesultanan Turki Utsmani seringkali melakukan perlawanan ke kerajaan Romawi di sekitarnya, tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah memperluas wilayah kesultanan dan menyebarkan pemahaman Islam yang benar. Adapun faktor lainnya yaitu untuk bertahan dan mengantisipasi serangan yang akan dilakukan Romawi. Pertempuran-pertempuran tersebut antaralain:

1. Pertempuran Varna 1444

2. Pertempuran Kosova 1448

Pertempuran Konstantinopel 1453
Langkah pertama yang dibuat Mehmed II setelah menjadi sultan yaitu melakukan kebijakan militer dan politik luar Negeri, antara lain; mengirimkan pernyataan/surat resmi ke Venice, Genoa, dan Hungaria untuk memastikan bahwa mereka tidak akan menyerangnya,strategi politik tersebut dilakukannya dengan maksud untuk menghilangkan pengaruh Kerajaan Bizantium di wilayah yang berdekatan dengan Turki Utsmani. Mehmed II mengambil resiko dengan mengirimkan utusan mereka ke Konstaninopel, sesampainya di Konstantinopel utusan dari kesultanan ditolak mentah-mentah sehingga Turki Utsmani harus bersiap utuk perang. Ottoman Empire di bawah pimpinan Sultan Muhammad Al-Fatih menyerang kota Konstantinopel yang dimulai dari tanggal 6 April dan berakhir pada tanggal 29 Mei 1453

BACA JUGA: Perang Karansebes, Pertempuran Sesama Pasukan Austria

Strategi Serangan Sultan Mehmed II (Muhammad Al-Fatih)

Peperangan berlangsung sengit, pengepungan yang menghabiskan kurang lebih 50 hari itu sangat menguras perbekalan pasukan Mehmed II. Peperangan berlangsung dari darat tepatnya dari arah perbukitan, Turki Utsmani mencoba melakukan serangan melalui benteng terdepan Konstantinopel tetapi belum mampu menembus pertahanan yang hebat tersebut, lalu Mehmed II memerintahkan pasukannya untuk menyerang dari dua arah agar memecah konsentrasi lawan, ia mencoba menyerang tembok pertahanan dari arah laut di Golden Horns atau Tanduk Emas, tetapi hal tersebut tidak dapat terlaksana karena lautan sudah dipasangi rantai-rantai besar sehingga kapal asing tidak dapat melintas perairan tersebut. Alhasil banyak kapal di tempat tersebut tersangkut dan karam, pasukan Turki Utsmani mencoba memutuskan rantai-rantai besar tersebut, tetapi tidak membuahkan hasil. Ditambah lagi pertahanan angkatan laut Bizantium sudah bersiap untuk menyerang kapal-kapal Turki Ottoman dengan dibantu pasukan salib yang datang dari Eropa membuat situasi tidak menguntungkan bagi angkatan laut Sultan Mehmed II.

Orang-orang yang tidak takut mati ini tidak ada henti-hentinya menyerang Konstantinopel, sebelumnya mereka membuat sebuah terowongan yang tembus langsung ke dalam benteng Konstantinopel, kemudian mereka juga mencoba cara yang tidak terpikirkan oleh bangsa Romawi Timur yaitu dengan menarik kapal-kapal perang melintasi bukit, hal ini sebelumnya pernah dilakukan oleh Pangeran Kiev ketika menyerang Bizantium pada abad ke-10 akan tetapi tetap dikalahkan oleh pasukan Bizantium. Sultan Muhamamad Al-Fatih menjadikan referensi tersebut sebagai cara terakhir, ia memerintahkan pasukan angkatan laut untuk menjadikan gelonggongan kayu sebagai roda kapal dan meminyakinya. Pada waktu itu 70 kapal perang ditarik melintasi hutan-hutan dan bukit yang akan menuju ke muara di Golden Horns (Tanduk Emas). Pasukan Romawi Timur sangat terkejut akan kehadiran kapal-kapal yang muncul sekejab dalam satu malam saja, ada sejarawan yang berspekulasi bahwa Al-Fatih dan pasukannya menggunakan bantuan makhluk halus karena daratan bisa dijadikan untuk kapal-kapalnya berlayar, mereka (sejarawan) berpendapat kapal-kapal Sultan Al-Fatih tersebut berlayar di atas gunung melebihi kehebatan Alexander the Great.

Pasukan Romawi Timur merasa terkepung dan membagi pertahanan mereka ke dua arah, Di hari tersebut Constantin XI dan rakyat Konstantinopel melakukan misa di Hagia Sophia untuk meminta perlindungan, begitupun Sultan Muhammad Al-Fatih yang melakukan solat berjamaah dengan pasukannya untuk meminta kemenangan. Mehmed II sebelumnya belajar dari mitologi yunani kuno, bahwasannya pada saat bulan purnama orang-orang romawi akan dilindungi, memenangkan pertempuran di saat itu akan sangat menghabiskan tenaga,karena mereka akan merasa dirinya dilindungi dan bertempur habis-habisan.

Penyerangan Turki Utsmani ke Konstantinopel
Mehmed II melakukan serangan besar-besaran ke Konstantinopel ketika bulan purnama tidak bersinar. Ketika serangan terjadi, Constantin XI sudah diberi nasehat oleh Giustiniani (panglima bizantium) untuk melarikan diri, tetapi ia malah melepaskan baju zirahnya dan tetap bergabung bersama pasukannya untuk berperang menghalau serangan Mehmed II. Setelah peperangan usai jasad Constantin Xi tidak ditemukan, prajurit kekaisaran romawi timur yang selamat melarikan diri meninggalkan Konstantinopel sehingga Konstantinopel jatuh ke tangan umat Islam pada tanggal 29 Mei 1453.