Perang Varna, Peperangan Pasukan Salib Melawan Turki Usmani

Perang Varna, Peperangan Pasukan Salib Melawan Turki Usmani
Perang Varna Turki Usmani, peperangan ini merupakan salah satu dari sejarah perang pada masa kesultanan utsmaniyah, perang varna terjadi sebelum perang besar yang menghebohkan Dunia yaitu perang Konstantinopel. Sebelumnya terjadi juga peperangan yang bernama perang Ankara antara Turki Usmani dengan Kekaisaran Timurid yang merupakan pecahan dari kekaisaran mongolia. Pada pertempuran sebelumnya Turki Usmani mengalami kekalahan dari Timurlane (Timurid) pada masa kepemimpinan Sultan Beyazid I. Setelah kekalahan Sultan Beyazid I, Raja Timur lenk kembali ke wilayahnya yang mengalami serangan dari Baghdad, sebelum kembali Timur lenk menghancurkan perkemahan milik pejuang salib di kawasan Turki Usmani karena diduga menolong Sultan Sulaiman Celebi melarikan diri ke daerah Eropa.

Apabila kita membahas tentang perang Varna, maka itu tidak lepas dari perang sebelumnya yaitu Perang Ankara antara Kekaisaran Timurid dengan Turki Usmani, tetapi kali ini kita hanya akan mengutip poin-poinnya saja dari pertempuran tersebut. Pertempuran Ankara membuat koalisi Eropa terdiam dan hanya menyaksikan apa yang sedang terjadi di kawasan Asia. Ketika Timur Lenk menyerang Turki Usmani dengan strategi manuver yang cerdik, bisa dibilang Sultan Beyazid I kehilangan posisi strategis, pasukan lawan terdiri dari prajurit berkuda, Beyazid I memiliki mayoritas prajurit infanteri dan mengira lawan lari ke daerah hutan sehingga ia akan mengepungnya di sana, tetapi usaha tersebut sia-sia karena tidak ada satupun pasukan Kekaisaran Timur di daerah hutan. Pada saat pasukan Turki akan kembali ke daerah Ankara, ternyata Raja Timur Lenk dan pasukannya sudah berada di Ankara menunggu kedatangan Beyazid I beserta tentaranya.

Pertempuran Ankara pun pecah, Turki Usmani mengalami kekalahan oleh Kekaisaran Timur. Anak dari Sultan Beyazid I yaitu Sultan Sulaiman Celebi melarikan diri ke daerah Eropa menggunakan kapal guna menyelamatkan wilayah Turki Usmani di daerah Eropa. Timur Lenk berusaha mencegah Sulaiman melarikan diri akan tetapi gagal, mengejarnya hingga ke Eropa merupakan sebuah kesalahan besar sehingga ia membatalkan pengejaran. Setelah membatalkan pengejaran ia menyerang prajurit salib yang berada di perbatasan wilayah Turki Usmani yang membantu Sultan Sulaiman melarikan diri.

Setelah Sulaiman Celebi selamat, ia memutuskan untuk mengadakan perjanjian dengan Kekaisaran Romawi, negosiasi tersebut bernama Treaty of Galipoli. Isi dari perjanjian tersebut menyatakan bahwa apabila Konstantinopel diserang oleh Timur Lenk maka Turki akan menolong, penduduk yahudi yang diusir dari wilayah Turki ke Konstantinopel boleh kembali ke Turki, kapal-kapal Eropa boleh menggunakan pelabuhan milik Turki Usmani, dan masih banyak lagi. Perjanjian ini tidak berlaku lagi setelah Sultan Murad II memimpin Turki Usmani dan sering berperang dengan Kekaisaran Bizantium.

Pertempuran Varna

Perang Varna adalah perang antara Turki Usmani dengan pejuang salib (crusader) yang dipimpin oleh Wladyslaw III selaku Raja Polandia dan Hungaria. Perang Varna terjadi ketika pergantian kekuasaan Sultan Turki Usmani pada kala itu. Sebelumnya, Sultan Murad II hendak berperang melawan Wladyslaw III sebagai pemimpin para pejuang salib yang menerobos masuk ke kota Nis, Turki Usmani. Namun, serangan pejuang salib gabungan dari kerajaan Bulgaria, Hungaria, Poland, Wallachia, Serbia, Bosnia, dan Albania dengan jumlah pasukan 40.000 (empat puluh ribu) berhasil dihalau oleh Sultan Murad II dari Turki Usmani. Peperangan yang seimbang itu membuat kedua pihak menahan serangan, Albania mundur dari peperangan lalu kembali ke kerajaan asalnya. Hal tersebut memaksa Hungaria menghentikan perang dan mengadakan perjanjian dengan Turki Usmani yang mana Hungaria dan koalisinya berjanji tidak akan melintasi perbatasan Turki Usmani.

Sultan Murad II merasa tugasnya telah selesai dengan adanya perjanjian tersebut, ia pindah dari Eropa kembali ke Anatolia (Asia Barat). Setelah itu ia mengutus putranya yang bernama Mehmed II menuju ke daerah balkan (Eropa) untuk memimpin wilayah di sana, anehnya ia percaya dengan putranya yang baru berusia genap 12 tahun untuk memimpin daerah Turki Usmani di Eropa, tentu saja Mehmed II tidak sendirian, ia di dampingi oleh para ulama dan pasukan terbaik (Jannisary) Turki Usmani dalam perjalanannya.

Perintah Sultan Murad II agar Mehmed II melakukan perjalanan ke daerah balkan (Eropa) menunjukan bahwa Sultan Mehmed II berhak secara sah memimpin Turki Usmani atau ia telah bergelar Sultan. Sesampainya ia di Eropa, terdapat pasukan Turki Usmani yang dipimpin oleh Jenderal Ali Pasa telah bergerak dari Turki Usmani menuju Albania, dalam penyerangan tersebut Turki Usmani mengalami kekalahan dan kehilangan antara 10.000 hingga 20.000 prajurit, pertempuran tersebut dikenal dengan nama Torvioll.

Mengetahui Sultan Murad II sudah tidak memimpin Turki Usmani, Raja Wladyslaw III mengumpulkan seluruh pasukannya beserta para pejuang salib yang terdiri dari Hungaria, Bosnia, Bulgaria, Jerman, Belgia, Croasia, Lithuania, Teutonic Knight, Kekaisaran Romawi, Czech, Wallachia, dan Poland untuk bergerak menuju Turki Usmani, tepatnya ke kota Varna. Sultan Mehmed II mendengar adanya pergerakan tersebut, ketika itu usianya masih 12 tahun dan belum siap untuk berperang. Akhirnya Sultan Mehmed II memerintahkan utusannya untuk mengirimkan surat kepada Murad II (ayahnya) yang berbunyi:

"Jika kamu adalah Sultan maka pimpinlah para pasukan, jika saya Sultannya maka saya memerintahkan kamu untuk memimpin para pasukan" - Sultan Mehmed II.


Pada keesokan harinya Sultan Murad II tiba di daerah balkan (Eropa) dan menuju ke kota Varna untuk berperang, hal ini benar-benar diluar dugaan Wladyslaw III. Para pejuang salib dan Hungaria terpojok dikarenakan pergerakan pasukan Turki Usmani. Pasukan Turki Usmani sendiri memiliki pasukan yang berjumlah 65.000 prajurit sementara pejuang salib yang terkepung tersebut hanya memiliki 25.000 prajurit.

Perang Varna diakhiri dengan kemenangan Turki Usmani dan kekalahan para pejuang salib pada tahun 1444 Masehi. Wlaydslaw III selaku raja Hungaria dan pemimpin pasukan salib ini gugur dalam pertempuran Varna. Sementara itu Sultan Murad II berhenti dari kekuasaannya sebagai Sultan lalu digantikan oleh anaknya yang bernama Sultan Mehmed II atau lebih dikenal dengan Muhammad Al-Fatih Sang Penakluk Konstantinopel.