Perang Rantai: Pertempuran Kazima (Dzatus Salasil), Khalid bin Walid

Perang Rantai atau Dzatus Salasil yang juga dikenal dengan Pertempuran Kazima merupakan perang antara Kekhalifahan Rasyidin dengan Kekaisaran Persia. Perang Rantai juga menjadi pembuka jalur perang kedepannya, dikarenakan perang itu terjadi di perbatasan kedua wilayah, tepatnya di kota Kazima. Pasukan muslim dipimpin oleh Khalid bin Walid, sementara untuk pasukan Kekaisaran Persia dipimpin oleh Hormuz, Qubad, dan Anoshagan. Pertempuran Rantai ini dimenangkan oleh pasukan muslim.

Dzatus Salasil atau Perang Rantai ini sangat menunjukkan kecerdasan panglima perang Islam, pada episode perang rantai komandan Persia menyiapkan prajuritnya untuk menghadap barat daya dengan formasi pusat di tengah dilengkapi dua sayap, sedangkan setiap prajurit kekaisaran dihubungkan dengan rantai-rantai. Mereka menunggu kedatangan pasukan Khulafaur Rasyidin, tetapi belum ada tanda-tanda sampai pada keesokannya pengintai memberi kabar bahwa muslim tidak bergerak ke Kazima melainkan ke kota Hufeir.

Entah apa yang terjadi pada rantai yang terhubung tersebut, dilepas atau tetap berjalan dengan rantai. Prajurit Persia menghubungkan dirinya dengan rantai dengan tiga, lima, tujuh, atau bahkan lebih guna menjadi sumber kekuatan bagi tentara. Rantai digunakan sebagai keberanian mereka untuk berperang habis-habisan daripada lari dari peperangan, hal itu juga bisa mengurangi terobosan kavaleri lawan. Namun, rantai juga memiliki kelemahan karena tentara dirantai dengan tentara lainnya, apabila ada yang jatuh maka gerakan menjadi terbatas dan serangan tidak berdaya. Sehingga nama Perang Rantai dikarenakan penggunaan rantai pada pertempuran ini.

Manuver Pasukan Muslim Pada Perang Rantai

Khalid bin Walid sebagai komandan perang pasukan muslim mengetahui Persia memiliki peralatan yang berat dan persiapan pertahanan yang matang. Oleh sebab itu ia memutuskan untuk melakukan manuver. Para pengintai mengabarkan pergerakan prajurit kekhalifahan tidak menuju kota Kazima, melainkan bergerak ke arah kota Hufeir. Komandan perang Persia, Hormuz melihat strategi itu sebagai pengelabuan. Ia berfikir lawannya menghindar dari medan perang untuk menuju langsung ke kota Uballa yang memiliki posisi strategis. Hormuz telah diperintah oleh Kaisar untuk mengalahkan Khalid bin Walid beserta prajuritnya dan melindungi kota Kazima. Namun, ia berfikir jika tentara khalifah itu berhasil menguasai Uballa melalui Hufeir sia-sia lah keberadaan-nya.

Khalid tahu bagaimana kualitas tentara Persia dan keunggulan tentara Kekhalifahan bergerak di gurun, sehingga ia memutuskan untuk mendekati Kazima dan berpindah untuk menuju Hufeir yang jaraknya kurang lebih 50 mil. Mendengar hal tersebut, dengan bergegas Hormuz memindahkan pasukan Persia berpindah ke Hufeir. Tujuan panglima perang muslim ini yaitu untuk membuat lelah tentara Persia pada Pertempuran Rantai. Ia sengaja memperlambat gerakan sehingga lawan lebih dulu sampai di Hufeir. Sesampainya di Hufeir, Hormuz tidak menemukan jejak pasukan muslim, pengintai memberikan kabar pasukan Khalid telah berpindah menuju Kazima. 

Dengan setengah hati, atas perintah komandannya prajurit-prajurit Rantai itu bergerak kembali menuju Kazima. Hal itu dikarenakan mereka diperintahkan kaisar untuk menjaga kota Kazima. Sesampainya di Kazima, mereka sangat kelelahan tidak ada semangat untuk berperang, yang ada hanyalah letih yang berkepanjangan. Sementara Khalid bin Walid dan tentaranya mendekati Kazima. Diperjalanan, Sebelum pasukan muslim menyerang, komandan pasukan muslim, Khalid bin Walid memerintahkan Asim bin Amr (saudara dari Qaqa bin Amr) dan Adi bin Hatim untuk menjadi komandan sayap dari masing-masing sayap yang ada.

Ketika "Pertempuran Rantai/Dzatus Salasil" Berlangsung

Sementara itu ketika kedua pasukan saling berhadapan, komandan dari pasukan Kekaisaran Sassaniad bernama Hormuz dengan kudanya menuju ruang terbuka antara dua pasukan mendekati barisan pasukan Kekhalifahan Rasyiddin,walaupun lebih dekat dengan pasukannya, lalu ia berkata "Satu lawan satu, mana Khalid!?". Mendengar hal tersebut Khalid bin Walid bergerak maju dengan kudanya sekitar beberapa langkah dari Hormuz. Akan tetapi Hormuz sang komandan Kekaisaran Persia telah melakukan kecurangan, ia memberi isyarat ke pengawalnya untuk maju membantunya ketika ia dan Khalid berperang lalu membunuh Khalid dan menyerang pasukan muslim. Khalid bin Walid tidak mengetahui rencana tersebut.

Hormuz turun dari kudanya dan memberi isyarat ke Khalid untuk melakukan hal yang sama, kedua jenderal ini membuat suasana antar pasukan hening. Mereka bertarung dengan pedang dan perisai, masing-masing terkejut dengan keahlian dari lawannya. Lalu Hormuz menyarankan untuk tanpa menggunakan senjata dan melemparkan pedangnya, Khalid pun mengikutinya. Ketika kedua Jenderal Perang ini bergulat di tanah saling mengunci satu sama lain, Jenderal Persia ini memberi isyarat ke pengawalnya untuk melaksanakan misinya. Melihat beberapa pengawal Pasukan Rantai masuk ke area pertarungan, Qaqa bin Amr langsung memicu kudanya untuk maju dan membunuh prajurit rantai itu. Diikuti dengan Khalid bin Walid yang berhasil mengalahkan Hormuz dan membunuhnya. 

Melihat hal tersebut, pasukan muslim langsung bergegas maju menyerang pasukan Kekaisaran Persia, peperangan pun pecah. Orang-orang Islam yang marah akan kecurangan yang dilakukan komandan lawan membuat pertempuran menjadi penuh murka. Khalid dan pasukannya menyerang pusat (bagian tengah) pasukan rantai, beberapa waktu kemudian tentara-tentara Persia menunjukkan kelelahannya dan muslim semakin bersemangat menyerang. Melihat kekalahan di depan mata, Jenderal Kekaisaran Sassaniad memerintahkan sayap Qubaz dan Anushjan mundur. Kemenangan pun berhasil di raih oleh pasukan Kekhalifahan Rasyidin pada perang Rantai atau Dzatus Salasil, minggu pertama bulan April tahun 633 Masehi. Khalid bin Walid Panglima Perang ini merupakan jenderal yang sangat ditakuti di medan perang dan berhasil memenangkan setiap perang yang dibelanya.